Monday, 13 February 2017

Melihat The Posbank, Bukit Indah Berwarna Ungu


The Posbank adalah bukit yang terletak di kota Rheden provinsi Gelderland, Belanda. Bukit ini termasuk bagian dari Veluwezoom National Park. Taman Nasional Veluwezoom berluas sekitar 5000 hektare. Daerah ini dimiliki dan dioperasikan oleh Natuurmomumenten. Veluwezoom adalah Taman Nasional tertua di Belanda.


Bukit The Posbank, di penuhi tanaman heather, dimana pada saat mekar di bulan Agustus, kawasan bukit ini menjadi warna ungu. Tanaman ini mekarnya sangat singkat, biasanya sekitar 3 minggu. Ketika tanaman berubah berwana ungu, bukit ini terlihat sangat indah. Apalagi kalau melihat bukit ini di pagi hari, kombinasi kabut pagi dengan bukit berwarna ungu seperti kita sedang berada dalam mimpi.


Untuk mencapai bukit ini anda harus mendaki. Bukit yang tingginya 90 meter ini menawarkan pemandangan yang tak tertandingi. Dalam cuaca cerah, Anda dapat melihat  bukit sejauh 20 kilometer.

The Posbank:
The Posbank:
The Posbank:
The Posbank:
The Posbank:
The Posbank:
The Posbank:

Friday, 10 February 2017

Nabana No Sato, Festival Jutaan Cahaya Terluas Di Jepang



Ada kehangatan di tengah musim dingin di Jepang. Walau musim liburan telah berlalu, namun kota-kota di Negeri Sakura itu memancarkan sinar dari Festival Cahaya yang digelar setiap tahunnya. 

Salah satu festival yang digelar terbesar di sana ialah Nabana No Sato, yang berlokasi di Nagashima Resort, Kota Kuwana, Prefektur Mie. Di sana, sebanyak 8 juta lampu LED ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan keindahan cahaya yang mengesankan.

Keindahan jutaan lampu dalam Nabana No Sato membuat festival ini mendapat julukan 'Winter Illumination'.


Festival ini disiapkan selama empat bulan oleh ribuan pekerja. Mereka membangun tiang pancang sampai model bentuk lampu yang akan dipamerkan. Tahun ini, festival itu mengusung tema “Keindahan Alam Raya”.

Nabana No Sato digelar dalam area seluas 26.400 meter persegi, merupakan area Festival Cahaya terluas yang ada di Jepang. Jutaan orang mendatangi festival ini untuk menikmati pajangan jutaan lampu yang berkelap-kelip cantik. “Kami mewujudkan pemandangan dari lima negara dalam festival pada tahun ini,” kata Otani.



Monument Valley di Amerika Serikat, Antartika, Plitvice Lakes National Park di Kroasia, dan pemadangan persawahan Jepang merupakan pemandangan yang bisa dinikmati dalam kilauan cahaya yang sudah disusun sedemikian rupa. Nabana No Sato berlangsung sampai 7 Mei mendatang. 

Pemandangan yang paling romantis ialah terowongan sepanjang 100 meter yang dihiasi lampu berwarna-warni sekaligus efek visual seperti dedaunan yang jatuh. “Dalam terowongan ini, pengunjung seakan menikmati musim gugur atau yang disebut momiji di Jepang,” ujar Otani.

Otani menargetkan sebanyak 2 juta pengunjung akan datang pada tahun ini. Meski sebagian besar berasal dari Jepang, namun jumlah wisatawan mancanegara yang datang juga semakin meningkat setiap tahunnya.


Nabana No Sato:
Nabana No Sato:
Nabana No Sato:
Nabana No Sato:
Nabana No Sato:

Wednesday, 8 February 2017

Melihat Keindahan Dinding Bebatuan Di Kepulauan Aran



Irlandia tak selalu memiliki pemandangan yang hijau di hamparan luas. Ternyata di balik keindahan alamnya tersembunyi lapisan tebal keras, yaitu batu kapur biru. Kapur biru yang terkenal ini terletak di bawah lebih dari setengah pulau besarnya.

Bagi pengunjung yang menuju pedesaan Irlandia dari timur ke barat, pastinya tempat itu akan membangkitkan rasa ingin tahu di antara banyak pengunjung saat pertama kali datang.

Saat menempuh jarak ratusan mil dinding batu yang berliku-liku yang ada di lahan pertanian ini akan terlihat dari segala arah. Bagi penduduk setempat tidak ada keanehan pada batunya, namun banyak pengunjung bertanya mengenai batu tersebut.

Sebagian besar negara Irlandia adalah pulau berbatu yang terdiri atas kapur karbon yang terbentuk sekitar 370 juta tahun yang lalu. Pada saat itu, bagian Irlandia adalah laut dangkal dan di antara dua massa tanah di dekat khatulistiwa.

Pergeseran benua ini mengangkat bagian dari dasar laut ke atas permukaan laut, yang kemudian jadilah Irlandia, dan lebih dari jutaan tahun, lumpur ini berkembang menjadi batuan kapur halus tepat di bawah permukaannya. 

Batuan ini diambil dari tanah dan digunakan menjadi bahan bangunan untuk penduduk Irlandia. Batu-batu yang berserakan perlu dibersihkan untuk lahan bertani, karena sangat tidak mudah untuk menyingkirkan batu-batu ini digunakan petani sebagai bahan untuk membangun dinding rendah sekaligus menandai properti masing-masing penduduk.


Jangan lewatkan sisi perjalanan Anda untuk berkunjung ke Kepulauan Aran, sebab tempat ini salah satu tempat paling indah di mana Anda dapat melihat jaringan dinding batu yang luas. Kepulauan Aran dikelilingi dari tiga pulau yang terletak di lepas pantai barat Galway Bay, Irlandia. Pulau tersebut yaitu Inishmore pulau terbesar juga dikenal sebagai Aranmore, dan pulau terbesar kedua adalah Inishmaan dan yang terkecil adalah Inisheer.  



Ketiga pulau yang berada di mulut Galway Bay tersebut telah lama menjadi tujuan para penikmat piknik, karena dikenal memiliki pemandangan yang menakjubkan.



Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:
Dinding Bebatuan:

Monday, 6 February 2017

Mengunjungi Al-Qarawiyyin Library, Perpustakaan Tertua di Dunia




Perpustakaan yang masuk dalam kompleks University of Al-Qarawiyyin disebut-sebut sebagai yang tertua di dunia. Situs Smithsonian menyatakan, bangunan yang didirikan pada 859 Masehi itu merupakan perpustakaan tertua yang masih dibuka hingga sekarang. Perpustakaan ini berlokasi di Fez, Maroko.



Perpustakaan itu dibangun oleh seorang wanita, Fatima Al-Fihri yang merupakan anak dari saudagar kaya Tunisia yang tinggal di Fez. Al-Qarawiyyin Library, begitu nama perpustakaannya, beberapa waktu lalu sempat ditutup untuk renovasi.



Namun kini, perpustakaan yang menempati bangunan eksotis tersebut kembali dibuka untuk wisatawan. Al-Qarawiyyin Library memiliki koleksi buku kuno yang tak ditemui di tempat lain. Perpustakaan ini juga menyimpan Alquran yang berasal dari abad ke-9.

Perpustakaan ini juga menyimpan naskah dan tulisan tertua milik Nabi Muhammad SAW, dan menjadi kiblat bagi para pakar sejarah dari berbagai belahan dunia.


Al-Qarawiyyin Library:
Al-Qarawiyyin Library:
Al-Qarawiyyin Library:
Inside Al-Qarawiyyin Library


Arsitek yang melakukan proyek restorasi perpustakaan ini adalah Aziza Chaouni, seorang wanita asli Fez. Dia mengatakan, proyek ini dibuat bukan hanya untuk memerbaiki lantai atau bangunan yang rusak. Namun menjadikan perpustakaan tersebut lebih nyaman untuk didatangi. Tak hanya untuk turis, tapi juga warga lokal Maroko.



Perpustakaan tersebut kini punya ruangan khusus untuk pemeliharaan naskah-naskah kuno. Manuskrip dan naskah-naskah kuno tersebut kini dijaga lebih banyak petugas keamanan, yang memang berjaga karena kecintaan mereka terhadap sejarah.




Inside Al-Qarawiyyin Library:

Al-Qarawiyyin universitas, perpustakaan, dan masjid yang didirikan oleh Fatima El-Fihriya di tahun 859 Masehi
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Perpustkaan masih menyimpan ijazah asli El-Fihriya saat ia mengikuti Universitas, Ijazah terbuat dari papan kayu
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Interiornya dibuat dengan kombinasi yang menakjubkan dari mosaik yang rumit dan lengkungan bulat putih.
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Ini dia buku-buku yang terdapat di Perpustakaan Al-Qarawiyyin
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Ruangan tempat membaca. Perpustakaan Al-Qarawiyyin adalah tempat bagi naskah-naskah yg terdapat sekitar 4.000 naskah, laporan NPR serta ada Al Quran abad ke-9 yang ditulis dalam Kufic kaligrafi dan cerita dari kehidupan Nabi Muhammad.
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Abdelfattah Bougchouf adalah kepala perpustakaan. Dia bertanggung jawab untuk memastikan buku dirawat dan ditangani dengan baik.
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Salah satu buku asli "Muqaddimah," teks abad ke-14 yang terkenal dari sejarawan Afrika Utara Ibn Khaldun.
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Naskah aslisistem hukum kuno Islam, yang ditulis dalam kaligrafi.
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Koleksi yang paling berharga dari perpustakaan ini adalah Quran asli dari abad ke-9, masih mengikat secara asli. Koleksi ini adalah koleksi tertua di perpustakaan
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Terlihat pengunjung dari seluruh dunia telah berbondong-bondong ke perpustakaan ini ingin melihat sejarah
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Nyuci kaki dulu pake air mancur
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Salah satu pengunjung sedang membaca
Inside Al-Qarawiyyin Library:

Interiornya masih indah walaupun perpustakaannya sudah tua

Sunday, 5 February 2017

Mengenal Carolina Reaper, Cabe Terpedas di Dunia



Ya, inilah cabai terpedas dengan bentuk yang paling jelek, Carolina Reaper. Jika Anda memakannya, maka Anda akan merasakan kepedasan lima ratus kali lipat melebihi saus Tabasco. Dari namanya saja Anda sudah tahu bukan cabai ini berasal dari mana? Rockhill, South Carolina. Reaper resmi menyandang gelar cabai terpedas dunia dari Guiness World Records pada 7 Agustus 2013.


Cabe super pedas ini dinobatkan oleh Guinness pada akhir tahun 2013 lalu, menggeser posisi cabe Trinidad Moruga Scorpion yang memegang rekor ini sejak tahun 2012.

Carolina Reaper adalah cabe yang dikembangbiakkan oleh Ed Currie, seorang pecinta cabe sejati asal South Carolina, AS. Sejak kecil Ed sangat menyukai makanan pedas dan beranjak dewasa ia terinspirasi untuk menciptakan jenis-jenis cabe baru yang luar biasa pedas.


Dalam pengukuran skala Scoville yang menjadi standar kepedasan internasional, cabe biasa hanya menempati posisi di skala 100 – 30,000. Namun Carolina Reaper mencapai skala kepedasan di antara 2,000,000 – 2,200,000 unit! Nilai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan cabe Trinidad Moruga.

Sejak dinobatkan sebagai pembuat cabe terpedas, perusahaan PuckerButt Pepper miliknya semakin sukses. Dengan Carolina Reaper, Ed menciptakan berbagai inovasi saus dan sambal luar biasa pedas dengan nama-nama unik seperti Voodoo Prince Death Mamba dan Edible Lava.

“Cabe buatan Ed akan mendorong banyak penanam cabe lain di dunia untuk saling bersaing mengalahkan rekor ini. Namun memakannya benar-benar sebuah tantangan,” ujar Ted Barrus, seorang blogger yang nekad merekam aksinya memakan Carolina Reaper.

Setelah berhasil makan cabe tersebut, Ed langsung muntah-muntah hingga cekukan. Namun ia mengaku tidak kapok makan cabe super pedas ini.


Walaupun banyak orang sangat berminat membeli cabe ini, Ed tentunya memberikan peringatan keras bahwa rasa pedas luar biasa bisa berbahaya bagi kesehatan, terutama mereka yang memiliki masalah pencernaan.

Namun sejauh ini penjualan Carolina Reaper justru semakin tinggi, membuktikan banyak orang mungkin bisa bertahan dengan sensasi kepedasannya.