Vaquita adalah spesies terkecil dan paling terancam punah dari ordo cetacea dan endemik di ujung utara dari Teluk California. Tubuh vaquita agak gempal dan memiliki ciri khas bentuk lumba-lumba. Spesies ini dibedakan dengan lingkaran hitam di sekitar mata mereka, patch pada bibir mereka, dan garis yang memanjang dari sirip dorsal ke mulut mereka. Punggung mereka berwarna abu-abu gelap yang memudar menjadi putih pada bagian bawah. Pada vaquita dewasa, warna abu-abu menjadi terang.
Vaquita menggunakan suara bernada tinggi untuk berkomunikasi satu sama lain dan untuk ekolokasi dalam navigasi di habitat mereka. Mereka umumnya makan dan berenang dengan santai. Vaquita menghindari kapal. Mereka keluar ke permukaan untuk bernapas dengan lambat, gerakan maju dan kemudian menghilang dengan cepat. Kurangnya aktivitas di permukaan membuat mereka sulit untuk melakukan pengamatan. Vaquita biasanya sendirian, kecuali jika mereka disertai oleh anaknya, yang menandakan mereka kurang sosial dibandingkan dengan spesies lumba-lumba lain.
Vaquita terdaftar sebagai terancam punah karena diperkirakan jumlah individu yang menurun hingga di bawah 100 pada tahun 2014, menempatkan spesies ini dalam bahaya kepunahan. Jumlah tersebut diperbarui menjadi sekitar 60 individu di tahun 2015, dan kembali menurun ke angka 30 pada November 2016, yang mengarah ke kesimpulan bahwa spesies ini akan segera punah. Penurunan populasi ini sebagian besar disebabkan tangkapan sampingan dari kegiatan ilegal penangkapan totoaba dengan jaring insang. Totoaba merupakan spesies endemik lain yang terancam punah.
Ahli herpetologi asal Peru, Shirley Jennifer Serrano Rojas, menemukan spesies baru katak beracun di tepian sungai dalam wilayah Cagar Biosfer Manú, di pedalaman Hutan Amazon, Peru. Spesies dengan tubuh berwarna hitam dengan dua garis oranye ini diberi nama Ameerega shihuemoy.
Katak beracun, merupakan nama umum dari sekelompok katak dalam keluarga Dendrobatidae yang merupakan katak asli Amerika Tengah dan Selatan. Warna cerah yang mencolok pada kelompok katak beracun berfungsi sebagai tanda peringatan bagi predator, bahwa katak ini berbahaya jika dimangsa.
Amfibi ini sering disebut katak panah oleh pribumi indian akibat penggunaan sekresi beracun mereka untuk meracuni ujung panah. Namun di sisi lain, alasan para ahli herpetologi tertarik untuk mempelajari katak panah lebih dari sekedar racunnya.
“Katak beracun punya cara unik dalam membesarkan anak-anaknya. Tak seperti kebanyakan katak jantan yang meninggalkan betinanya setelah bertelur, katak beracun jantan akan tetap berada di sekitar telur-telur dan menjaganya,” ungkap ahli biologi evolusioner, Kyle Summers dari East Carolina University.
Summers melanjutkan, sang calon ayah ini memastikan telur-telur tetap terhidrasi dan terbenam dalam air. mereka kemudian akan memindahkan berudu ke kolam-kolam air kecil, sementara sang ibu akan meletakkan lebih banyak telur, untuk dihidangkan sebagai makanan bagi anak-anaknya yang tengah bertumbuh.
Burung-burung Cenderawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka ditemukan di Indonesia timur, pulau-pulau selat Torres, Papua Nugini, dan Australia timur. Burung anggota keluarga ini dikenal karena bulu burung jantan pada banyak jenisnya, terutama bulu yang sangat memanjang dan rumit yang tumbuh dari paruh, sayap atau kepalanya. Ukuran burung Cenderawasih mulai dari Cenderawasih raja pada 50 gram dan 15 cm hingga Cenderawasih paruh-sabit Hitam pada 110 cm dan Cenderawasih manukod jambul-bergulung pada 430 gram.
Cendrawasih dipercaya sebagai burung dari surga oleh masyarakat papua lantaran bulunya yang indah. Burung cendrawasih jantan memiliki keindahan bulu yang digunakan untuk menarik perhatian cendrawasih betina pada masa kawin.
Burung Cendrawasih:
Burung Cendrawasih:
Burung Cendrawasih:
Mereka berhabitat di hutan dataran rendah. Di Indonesia, burung cendrawasih dapat di jumpai di beberapa tempat seperti Maluku dan Papua. Ada beberapa jenis cendrawasih yang telah masuk rekor muri, di antaranya cendrawasih botak, cendrawasih merah, Toowa, dan cendrawasih kuning kecil masuk dalam daftar jenis burung yang harus dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999.
Berikut Adalah Beberapa Jenis dan Karakteristik Burung Cenderawasih
Lesser bird of paradise (Paradisaea minor)
Di antarasekian banyak jenis cenderawasih, mungkin burung ini yang paling dikenal kebanyakan orang. Burung ini memiliki warna merah kecoklatan dengan mahkota kuning dan punggung atas kuning kecoklatan. Burung jantan jenis ini memiliki tenggorokan berwarna hijau zamrud tua, sepasang ekor yang panjang dan dihiasi dengan bulu hiasan sayap yang berwarna kuning dan putih. Habitat asli burung ini terdapat hampir di seluruh hutan bagian utara Papua Nugini dan juga pulau-pulau sekitar, seperti Pulau Misool dan Yapen.
Cenderawasih Merah atau Red bird of paradise (Paradisaea rubra)
Dinamakan cendrawasih merah sebab burung ini memiliki warna bulu dominan merah darah. Kombinasi warna lain tampak pada bagian muka; bulu muka warna gelap, memiliki semacam mahkota atau jambul berwarna hijau zamrud, paruh dan sedikit di bawah leher berwarna kuning terang. Pada bagian ekornya terdapat dua buah bulu memanjang serupa tali atau pita berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Cenderawasih merah hanya terdapat di hutan dataran rendah, di antaranya di Pulau Waigeo dan Batanta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Di Desa Sawinggrai yang terletak di Distrik Meos Mansar, cenderawasih merah merupakan ikon khas desa kecil ini. Di desa tersebut, Anda dapat menyaksikan langsung burung jenis ini di habitat asli melakukan atraksi menari pada jam-jam tertentu, yaitu pada pagi dan petang hari di musim kawin.
Lawes’s Parotia (Parotia Lawesii)
Sekilas postur burung jantan jenis ini mirip dengan perkutut, hanya saja ia berwarna hitam dengan kening putih dan mata berwarna biru gelap. Tengkuknya berwarna biru; sedikit di bagian dada atas (mulai dari bawah paruh) berwarna perpaduan hijau dan emas. Ciri khas yang mencolok dari jantan burung jenis ini adalah adanya tiga bulu memanjang yang tumbuh dari ujung tiap matanya (masing-masing 3 helai). Sementara itu, burung betinanya berwarna coklat dan mata berwarna kuning gelap.
King of Saxony bird of paradise (Pteridophora alberti)
King of Saxony bird of paradise adalah jenis burung pengicau yang terbilang kecil sebab memiliki panjang sekira 22 cm. Burung jantan berwarna hitam dan kuning tua. Bulu mantel dan punggungnya tumbuh memanjang berbentuk serupa tudung berwarna hitam. Pada bagian mulai dari dada hingga ke perut berwarna putih kekuningan. Iris matanya berwarna coklat tua dan paruhnya berwarna hitam dengan bagian dalam mulut berwarna hijau laut. Yang membuatnya atraktif dan eksotis adalah adanya dua helai bulu kawat bersisik yang berwarna biru langit mengilap yang tumbuh mulai dari wajahnya. Panjangnya dapat mencapai 40 cm, seolah tak seimbang dengan tubuhnya yang kecil.
Sementara burung betinanya berwarna abu-abu kecoklatan dengan garis-garis dan bintik gelap. Burung betina tidak “mengenakan” mantel dan tidak memiliki bulu kawat yang memanjang. Burung betina berukuran lebih kecil ketimbang burung jantan.
Wilson’s bird of paradise (Cicinnurus respublica)
Jantan Wilson’s Bird of Paradise yang berukuran kecil sekira 21 cm ini berwarna perpaduan merah darah dan hitam. Ia “mengenakan” jubah kecil berwarna kuning terang di bagian tengkuk. Pada bagian kepala, ia seolah memakai penutup kepala berwarna biru langit, sedikit lebih terang dibandingkan warna kakinya yang juga biru. Selain perpaduan warna yang menarik, keunikan burung ini adalah memiliki dua bulu ekor yang berwarna ungu dan bentuknya melengkung serupa sulur. Sedangkan pada burung betina memiliki warna kecoklatan dan bermahkota biru.
Selain burung cenderawasih di atas, masih banyak jenis lain dengan warna dan variasi bulunya bermacam-macam dan tak kalah cantik. Semoga burung dari surga ini tidak akan menjadi semacam dongeng untuk generasi penerus karena tindakan tidak bertanggung jawab manusia yang mengancam kelestariannya.